METRO - Mentari pagi baru saja menyapa hangat warga yang tengah asyik berolahraga di kawasan Taman Merdeka, Kota Metro, Minggu (5/7/2026). Angin sejuk yang berhembus mengiringi langkah para pejalan kaki. Namun, tepat pukul 07.00 WIB, ada pemandangan yang tak biasa di salah satu sudut ruang terbuka hijau kebanggaan warga Bumi Sai Wawai ini.

Alih-alih sekadar duduk bersantai sambil menatap layar gawai, puluhan orang dari berbagai rentang usia tampak asyik berkerumun di atas tikar-tikar yang tergelar rapi. Di tengah-tengah mereka, ratusan buku dari berbagai genre—mulai dari sastra, sejarah, hingga sains—berjejer bak permata yang menunggu untuk diselami.
Itulah potret semaraknya "Nongki" atau Nongkrong Literasi, sebuah gerakan kolaborasi untuk gerakan literasi negeri yang menyulap tradisi nongkrong akhir pekan menjadi oase intelektual yang menyegarkan.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Metro, sebagai bentuk kampanye gemar membaca ini sukses menyatukan berbagai elemen masyarakat.
Beragam Komunitas Literasi Pemuda yang tak henti-hentinya memantik diskusi dan bedah buku ringan. Nongkrong itu tidak selamanya harus menghabiskan uang di kafe. Lewat 'Nongki' ini, kami ingin membawa buku keluar dari rak-rak yang sunyi, langsung menyapa masyarakat di tempat mereka bersantai. Kita ubah ruang publik menjadi ruang baca terbuka.

Suasana semakin hidup ketika sesi diskusi dimulai yang dipandu oleh tri krisniati, S.I.Pust. (UM Metro), Aan Gufroni, S.I.Pust (UIN Jurai Siwo Metro) serta Luckty Giyan Soekarno, S.Sos. (Aktivis WES Payungi) Bukan diskusi berat yang kaku, melainkan obrolan santai sambil menyeruput kopi pagi.
Sinergi antara pemerintah kota, perguruan tinggi, dan komunitas ini seolah menegaskan kembali identitas Kota Metro sebagai Kota Pendidikan. Turut hadir mengunjungi acara nongki, wakil rektor 4 Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed. "memberikan dukungan positif terhadap kegiatan ini dan kedepannya harus tetap bersinergi," ungkapnya. UPT Perpustakaan UM Metro yang ikut menggelar buku-buku referensi dan bacaan populer di tengah-tengah masyarakat merupakan bentuk strategi "jemput bola" yang sangat efektif dalam mendekatkan akses literatur kepada warga.

Lewat gerakan "Nongki", membaca buku menjadi aktivitas yang egaliter, hangat, dan tentunya, sangat menyenangkan. Sebuah tradisi baru di hari Minggu yang layak untuk terus dirawat dan digaungkan.